UNIK! Budaya asli Suku Sasak " Nyongkolan PRAJE"


Suku Sasak merupakan suku asli masyarakat pulau Lombok, pulau yang begitu kaya dengan tradisi budaya. Sebagai masyarakat asli Lombok, saya akan mencoba mengulas sedikit adat tradisi khas Sasak Lombok punya, tidak jauh dari tema dan pembahasan yang sebelumnya saya akan menyinggung sedikit tentang tradisi Nyongkolan. Seperti yang sudah kita ketahui Nyongkolan adalah prosesi adat yang dijalankan apabila adanya proses pernikahan antara Laki-Laki (Terune) dan Perempuan (Dedare). Di dalam suku Sasak Banyak sekali tradisi adat istiadat suku sasak yang mulai di tinggalkan penduduk sasak sendiri. Salah satunya adalah Praje. Dewasa ini, sudah tidak banyak generasi yang mengetahui adanya bagian penting dari Nyongkolan itu sendiri yaitu PRAJE. Apa itu PRAJE? Praje merupakan salah satu tradisi beponggoq (Ponggoq artinya (bahasabahasa sasak) = dipikul) baik pada acara Nyongkolan. Konon acara atau ritual priaje ini sudah ada sejak enam abad yang lalu. Biasanya pada acara adat nyongkolan, pengantin atau mempelai di usung diatas praje, kamudian di giring keliling sebelum sampai tujuan (rumah mempelai wanita). Tidak hanya pada acara nyongkolan  begitu juga pada acara khitanan/sunatan. Anak laki-laki yang akan melangsungkan acara khitan akan di giring keliling sebelum melakukan ritual sunatan menggunakan Praje. Disamping itu juga dalam penggunaan praje ini biasanya diiringi dengan tambahan musik tradisional asli suku sasak yakni Gendang Beleq. Pemandangan ini akan sering terlihat di sepanjang jalan raya di pulau lombok. Biasanya pada hari sabtu dan minggu sore. Iring iringan kerabat keluarga dari pihak pengantin pria yang akan membawa pengantin wanitanya untuk menyambangi rumah orang tua mempelai wanita. Jika ingin melihat nyongkolan yang sangat sakral masih dapat  ditemukan di daerah lombok tengah secara keseluruhan pedaleman lombok tengah dimana para bangsawannya masih memegang erat kesakralan adat nyongkolan ini. Kita akan bisa melihat perbedaan tatkala adat nyongkolan sorong serah aji krame ini di laksanakan dari pakaian, musik pengiring, dan pelaku nyongkolan yang tertib. Tepatnya di desa puyung tradisi nyongkolan tidak boleh sembarangan- pakaian harus nmengikuti adat tradisi sorong serah aji krame dan musik iringan juga harus sesuai dengan tradisi lombok gendang belek dan musik praje. Nantinya nyongkolan ini akan di kawal ketat oleh pasukan bertombak tidak ada satupun yang boleh memasuki iring iringan ini pelestarian adat istiadat secara keseluhanya masih di pegang erat oleh masyarakat puyung bagian singasari dan pedaleman. Tetapi pada zaman era globalisasi ini, sudah jarang terlihat adat Nyongkolan praje yang masih sangat kental. Nyongkolan yang sering kita jumpai hanya nyongkolan mempelai pria dan wanita berjalan kaki hingga sampai ke tempat tujuan tanpa menggunakan PRAJE. Jadi, tugas kita sebagai generasi muda suku Sasak untuk melestarikan kekayaan budaya yang sudah ada sejak abad ke-enam yang lalu seperti adat Nyongkolan PRAJE ini.

Sekian.
Semoga bermanfaat 🙏

Komentar

  1. Semoga dapat menumbuhkan kesadaran kita sebagai generasi muda suku Sasak!

    BalasHapus
  2. pertahankan terus budaya sasak agar tidak punah di zaman yang semakin maju

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga generasi muda bisa sadar akan hal tersebut.

      Hapus
  3. Jadi generasi muda yang menjaga kebudayaan nusantara. Salam budaya!

    BalasHapus
  4. Bangga jadi penerus anak sasak

    BalasHapus
  5. Kurang menarik untuk dibaca karena lebih ke arah redaksi berita, juga pemilihan tanda baca Yang kurang tepat, serta ide pokok paragraf Yang belum jelas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih masukannya, saran dan kritikan anda sangat luar biasa.

      Hapus
  6. Yuk ajakin aku nyongkolan😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayok sini, ntar pake baju adat sasak juga. Lambung.

      Hapus
  7. Budaya yang penuh makna dan filosofi yang tinggi.

    BalasHapus
  8. Balasan
    1. hehee, iya. besok ikutan nyongkolan saya ya. wkwk

      Hapus
  9. Sangatt bermanfaat untuk tambahan pengetahuan bagi kami pemuda-pemudi calon generasi penerus budaya Sasak untuk tetap mempertahankan budaya yang kita miliki dan mengembangkan kreatifitas budaya kita agar tidak terancam punah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas masukan dan kritiknya. sangat bermanfaat.

      Hapus
  10. Sangat bermanfaat min, terimakasih.

    BalasHapus
  11. Terima kasih atas infonya...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Warisan Lagendaris Suku Gumi Sasak

Tradisi unik suku Sasak "NYONGKOLAN"