Tradisi unik suku Sasak "NYONGKOLAN"
Datang ke Lombok bukan selalu bicara tentang pantai yang biru, keindahan laut, diving, snorkeling, ataupun Rinjani yang gagah. Di antara semuanya ada yang perlu dipelajari, yaitu adat Suku Sasak yang mendiami Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Seperti halnya dengan suku-suku pada umumnya, Suku Sasak pun menarik, dari segi bahasa, budaya, sampai ke tradisi yang masih dilakukan secara turun-temurun. Sebagai suku yang memiliki budaya, dalam tradisi sehari-hari, suku Sasak Lombok seperti suku-suku lainnya yang ada di Indonesia. juga menjunjung tinggi nilai kultural budaya. Adat suku Sasak sangatlah unik, ada suatu serangkaian acara adat dalam prosesi perkawinan yang sangat menarik dan hanya ada di Lombok yaitu "Nyongkolan"
Nyongkolan berasal dari kata songkol atau sondol yang berarti mendorong dari belakang atau bisa diartikan secara kasar berarti menggiring (mengiring pengantin) dalam bahasa sasak dialek Petung Bayan.
Nyongkolan adalah prosesi adat yang dijalankan apabila adanya proses pernikahan antara Laki-Laki (Terune) dan Perempuan (Dedare) di dalam suku Sasak. Dengan diiringi keluarga dan kerabat mempelai pria, memakai baju adat, serta rombongan musik yang bisa gamelan atau kelompok penabuh rebana, atau disertai Gendang beleq biasanya pada kalangan bangsawan. Dalam pelaksanaannya, karena faktor jarak, maka prosesi ini biasanya rombongan mulai berjalan dari jarak 1 - 0,5 km dari rumah mempelai wanita. Biasanya nyongkolan akan dilaksanakan setelah proses akad nikah, untuk waktu bisa ditentukan oleh kedua belah pihak. Ada yang meringkas dalam satu waktu ada pula yang akan melakukan nyongkolan seminggu setelah proses akad nikah dilaksanakan. Ucap bapak H. Muhammad Musatami'ul Hadi selaku kepala desa Mamben Lauk.
Setelah hari tiba, pengantin laki-laki dan perempuan akan diiring atau di giring layaknya Raja dan Permaisuri menuju kediaman keluarga pihak pengantin perempuan, pengiring ini akan mengenakan pakaian adat sasak layaknya prajurit dan dayang-dayang menghantar Raja dan Permaisuri sambil diiringi dengan musik tetabuhan tradisional baik berupa Gendang Beleq, Gamelan Beleq, Kedodak, atau Tawak-Tawak malah sekarang ada namanya Kecimol dan Ale-Ale yang biasanya diiringi oleh penyanyi.
Tujuan dari prosesi nyongkolan ini adalah untuk memperkenalkan pasangan mempelai tersebut kepada masyarakat, terutama pada kalangan kerabat maupun masyarakat dimana mempelai perempuan tinggal, karena biasanya seluruh rangkaian acara adat pernikahan dilaksanakan di pihak mempelai laki-laki.
Terimakasih atas kunjungan Anda 😊
Semoga bermanfaat.
Mantappp, terimakasih infonya 😊
BalasHapusSama-sama, terimakasih sudah mampir😊
HapusKerenn... artikelnya dapat menambah wawasan tentang kebudayaan daerah....
BalasHapusAlhamdulillah, maklum pemula😂
Hapustunggu artikel selanjutnya yaaa .
Kembangkan lagi. Ini sangat bermanfaat
BalasHapusTerimakasih sudah mampir😊
HapusKembangkan lagi. Ini sangat bermanfaat
BalasHapusKembangkan budaya lombok👍
BalasHapusPastinyaaa 😊
HapusLanjutkan terus, agar budaya kita tidak tersaingi oleh zaman
BalasHapussiappp, terimakasih sarannya.
Hapusjazakallah khir atas artikelnya, bagus
BalasHapusSyukron akhii😉
HapusBagus banget.. Kembangkan
HapusTerimakasih atas kunjungan anda 😊
HapusInfo yang menarik. Ditunggu tulisan selanjutnya
BalasHapusMakasii udh mampir😊
BalasHapusSemoga dengan adanya artikel ini, memberi jawaban yang benar atas anggapan² yang melenceng tentang Sasak.
BalasHapusSALAM BUDAYA !
Salam budaya! Terimakasih 😊
HapusKeren dan sangat bermanfaat.
BalasHapusTerimakasih sudah mampir
Hapussangat menarik, untuk menambah wawasan.
BalasHapusterimakasih.
HapusArtikelnya bagus
BalasHapusKeren..Budaya yang unik..
BalasHapus